Titip Hati


Suatu hari, Anisa bertemu Justin di taman.
Anisa berkata, "Mas, Mas!"
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" jawab Justin dengan senyum lima watt andalannya.
"Anu, saya boleh nitip?" Anisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, ragu-ragu bertanya.
"Boleh, nitip apa?" Justin masih tersenyum cool dengan ke-PD-an tingkat dewa miliknya.
"Saya mau nitip hati saya." kata Anisa akhirnya.
"Oh, ya, buat siapa?" agak heran Justin masih menanggapi Anisa yang terlihat lesu.
"Buat dia yang nggak bisa dimilikin." Anisa tersenyum lemah sembari mengulurkan hatinya kepada Justin.
Justin justru terpana dengan mulut menganga.
"Astaga!" Apakah ini modus gaya baru?

Posting Komentar untuk "Titip Hati"