ESTETIKA DALAM NOVEL “BURLIAN” KARYA TERE-LIYE
![]() |
| tulismenulis.com/Ayu Hartini |
Estetika
merupakan ilmu tentang
keindahan yang dikaji secara sistematis. Karya sastra sebagai salah satu produk
seni memiliki kepentingan untuk menyampaikan pesan, baik secara langsung maupun
tidak langsung kepada pembaca. Novel “Burlian” karya Tere-Liye memiliki cara
sendiri dalam menghadirkan persoalan estetika. Persoalan tersebut salah satunya
dapat dipahami melalui penggunaan bahasa. Bahasa pembuka yang digunakan oleh
Tere-Liye pada setiap bab dalam novel “Burlian” selalu menarik, sehingga
membuat pembaca penasaran untuk melanjutkan membaca hingga tuntas.
Sudut pandang
yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, dengan Burlian sebagai tokoh
utama dalam novel tersebut. Burlian diceritakan sebagai anak spesial sejak
masih dalam kandungan, ceria menghadapi hari-harinya dengan kenakalan-kenakalan
khas anak kampung yang didera rasa penasaran yang tinggi. Setiap bab
menceritakan tentang Burlian serta kegiatannya yang seru dan menyenangkan.
Meski terlihat tidak terdapat kaitan dari satu bab ke bab yang lain, tetapi
jalinan cerita pada bab sebelumnya banyak pula yang saling bersangkutan di
bab-bab berikutnya. Ada saja bagian awal yang mulanya menjadi misteri kemudian
terkuak pada bab setelahnya.
Pada bab “Hari
Dilahirkan”, Tere-Liye menceritakan ketika Burlian dalam kandungan yang dipenuhi
cerita mistis dari perkuburan di belakang rumah mereka. Tere-Liye dengan apik
memaparkan cerita tersebut melalui percakapan antara Mamak dan anak-anaknya
sebagai cerita pengantar tidur yang bermula pada pertengkaran Burlian dengan
saudara-saudaranya, Ayuk Eli, Kak Pukat, dan Amelia.
“Kau sejak dilahirkan memang sudah berbeda, Burlian. Spesial.... Dulu waktu Mamak baru mengandung kau beberapa minggu, setiap malam dari pohon besar belakang rumah selalu terdengar suara burung berisik, berceloteh tidak henti-henti. Suaranya kadang-kadang melenguh nyaring, kadang-kadang berteriak seperti memanggil sesuatu, dan lebih sering lagi meratap sedih tak berkesudahan.” (Tere-Liye, 2011: 1).
Selain pembuka
yang menarik, ketika membaca novel ini seolah-olah kita berada di dalam cerita
dan ikut merasakan bagaimana seramnya apa yang diceritakan oleh Mamak. Novel
ini begitu menghanyutkan sekaligus memberikan kejutan pada setiap babnya.
“Astaga! Selepas lemparan bara pertama, burung itu justru melenguh panjang, disusul dengan suara gaduh burung-burung lain, bahkan lolongan anjing ikut terdengar, seketika membuat ramai perkuburan. Menyeramkan, seperti seluruh penghuninya sedang marah besar.... Dan kau tau Burlian, tengkuk Mamak tiba-tiba terasa dingin, macam ada tangan tidak terlihat yang menyentuhnya, dan perut besar Mamak juga mendadak terasa berat sekali.” (Tere-Liye, 2011: 2-3)
Pada
bab “Ini Tanah Kami”, Tere-Liye menceritakan tentang insinyur-insinyur dari
kota yang melakukan pendeteksian kandungan minyak melalui pengeboman di dalam
tanah. Lagi-lagi kalimat pembuka yang
dipilih terasa pas dan cocok untuk mengawali sebuah cerita. Apalagi dibumbui
dengan sedikit ketegangan yang membuat situasi justru menjadi lucu.
“BUMMM!!!”Seluruh kampung terasa bergetar.“BUMMM!!”Dentuman itu semakin kencang terdengar.
Sejak tadi pagi, suara itu mengganggu kesibukan di kelas. Bukan hanya sekali, bunyinya setiap satu jam sekali. Membuat tulisan kapur di papan tulis hitam berguguran. Foto presiden dan wakil presiden di dinding bergetar merontokkan debu, dan aku sejak tadi menatap lamat-lamat patung garuda yang diapit foto-foto itu, cemas kalau-kalau jatuh berdebam. Burung yang ini meski punya sayap tujuh belas helai bulu tidak bisa terbang, bukan? Jadi bisa hancur berantakan kalau sampai jatuh. (Tere-Liye, 2011: 7).
Sosok
Bapak yang bijaksana juga digambarkan penulis melalui perkataan-perkataannya,
pun ketika menghadapi kecemasan terkait pengeboman di hutan-hutan, tanah milik
mereka. Bapak dengan gamblang menjelaskan dari pengalaman yang sudah terjadi di
lain desa dan tidak setuju dengan adanya pengeboman itu.
Aku mendadak gatal ingin mengacungkan tangan seperti Munjib, tapi urung. Aku teringat wajah muram Bapak beberapa hari lalu di rapat kampung. “Oi! Bagaimana mungkin kalian tidak mengerti? Mereka tidak akan membawa manfaat apapun bagi kita. Lihatlah Prabumulih di sana ladang minyaknya tidak terhitung, tapi apakah kehidupan kampungnya jadi lebih baik? Jalan-jalan lalu diperbaiki? Listrik?” Bapak berkata dengan intonasi tajam, “Kubanagn di jalanan justru semakin banyak. Juga hingga hari ini, detik ini, sejak jaman Belanda minta tanah, jangankan listrik, satu lampu menyalapun tidak ada di sana, hanya lampu canting yang padam ditiup angin kencang. Apalagi di tempat kita yang jauh lebih terpencil, lebih pelosok. Omong kosong janji mereka itu.”
Orang-orang berseru ramai menanggapi kalimat Bapak.“Ini kampung kita. Hutan ini juga hutan leluhur kita. Kitalah yang harusnya memilikinya. Bukan orang-orang kaya dari kota. Sekarang mereka mencari minyak tanah, besok lusa mereka menebangi hutan untuk dijadikan kebun kelapa sawit, sampai habis seluruh hutan, sampai kita mencari sepotong kayu bakar saja tidak bisa lagi, apalagi berburu ayam liar, mengambil rotan, rebung, dan sebagainya. Oi, hanya gara-gara uang berbilang dua ratus ribu saja kalian mau mengijinkan mereka mengebom tanah-tanah kita? Picik sekali.” (Tere-Liye, 2011: 10-11).
Pada
bab “Menanam Masa Depan”, diceritakan mengenai pentingnya bersekolah. Karena
itu ketika Burlian dan Kak Pukat bolos sekolah, Mamak menghukum mereka dengan
ikut mencari kayu bakar di hutan tanpa omelan seperti biasa. Agar mereka
merasakan betapa beratnya bekerja bolak-balik mencari kayu bakar sehingga
membuat mereka jera untuk bolos sekolah lagi di kemudian hari. Hukuman yang
semacam itu justru ampuh dibandingkan hanya nasihat, karena sesuatu yang
ditindakkan langsung akan lebih mengena dibandingkan dengan kata-kata belaka.
Ekspresi wajah Mamak dingin, ia tidak mengomel seperti biasanya, hanya menatap tajam, berseru pendek, dan tidak ada ampun mengisi keranjang kami banyak-banyak. Tanpa istirahat semenit pun selepas kayu bakar itu disusun lagi, Mamak sudah berseru galak, “BERGEGAS!!” Berjalan cepat-cepat di jalanan setapak hutan.Ini yang keempat kali aku dan Kak Pukat tersenggal naik-turun bukit, dengan baju mulai kotor oleh debu, wajah cemong, keranjang rotan yang disesaki potongan kayu bakar. Tadi aku sempat jatuh karena tidak hati-hati melangkah, sandalku tersangkut tunggul, keranjang itu jatuh, tumpah, sakit sekali saat kakiku terkena salah satu potongan kayu bakar. Mamak hanya melotot, berdiri tanpa kata satupun, menungguiku memasukkan kembali kayu bakar ke dalam keranjang. Lantas berjalan cepat-cepat lagi, aku terpincang-pincang menyusulnya. (Tere-Liye, 2011: 25).
Masih
sama soal hukuman, pada bab “Tahanan Stasiun Kereta”, Burlian dan Kak Pukat
kembali terkena hukuman. Kali ini hukuman diberikan oleh Bapak mereka. Mereka
ditahan di ruang kepala penjaga stasiun akibat tertangkap basah memasang paku
di rel kereta api, sampai Bapak menjemput, mereka baru diperbolehkan pulang.
Namun, kenyataannya mereka harus mendekam sampai esok hari sebagai bentuk
pertanggungjawaban atas perbuatan mereka.
“Mana Bapak?” Aku bertanya kecewa.“Bapak bilang, kalian urus sendiri masalah kalian!”Astaga! Hanya itu saja pesan dari Ayuk Eli, lantas dia bersama Amelia pergi, meninggalkan kami yang belum makan, belum mandi, gelap, tersiksa pula oleh puluhan nyamuk. Aku menelan ludah. Kalau begini urusannya, Bapak pasti marah besar saat tahu kami tertangkap basah memasang paku di rel kereta. (Tere-Liye, 2011: 39).
Pada
bab “Ahmad, Si Ringkih Yang Hitam”, dikisahkan hubungan persahabatan Ahmad
dengan Burlian. Ahmad yang pada mulanya banyak dicela dan diremehkan karena
kulitnya yang hitam serta tidak pernah bergaul dengan anak-anak seumurannya,
dan paling menyakitkan adalah ketika Ahmad diejek sebagai anak haram oleh sebab
bapaknya meninggalkan keluarganya di kampung tanpa kabar. Namun, Burlian yang
pada dasarnya memiliki hati yang lembut kemudian mulai berteman dengan Ahmad
dan membelanya saat ia dicela kakak kelas mereka. Dari bab tersebut, Tere-Liye
menggambarkan hubungan perteman yang sejati. Bahkan ketika akhirnya Ahmad
meninggal, kemudian orang-orang tetap mengenangnya sebagai Maradona kampung
yang meminjamkan kehidupannya kepada Burlian.
Esok malamnya, meski tetap ramai yang menonton, langit-langit depan rumah Bapak sepi oleh teriakan. Selepas Argentina memastikan kemenangannya di piala dunia itu, saat Maradona dengan bangga mengangkat pialanya tinggi-tinggi, salah seorang penduduk kampung justru berkata lirih, “Dia... dia suka sekali teriak, HAJAR! AYO HAJAR TERUS!!” sambil menunjuk tempat biasanya Ahmad duduk menonton. Maka hanya soal waktu, saat yang lain ikut menyeka hidung yang tiba-tiba terasa kedat, kerongkongan terasa sakit.Membuat senyap seluruh ruangan.Aku? Di kamar, Mamak memelukku erat-erat.Aku yang tidak mampu menonton siaran langsung TVRI. Aku yang sejak sore menangis... yang saat itu tetap saja menangis meski sudah jatuh tertidur. Aku sungguh menangis dalam tidur. Ya Allah, Ahmad telah meminjamkan kehidupannya kepadaku dengan berkata: “Biar, biar aku saja yang ambil, Burlian.” (Tere-Liye, 2011: 68).
Bab
“SDSB, Semua Dapat Semua Bungkam”, terdapat pelajaran mengenai larangan
berjudi. Tere-Liye, melalui pengungkapan bahasa yang santun dan tidak bermaksud
menggurui benar-benar menyampaikan pesan baik yang merasuk ke dalam hati
pembacanya. Melalui penuturan Wak Yati kepada Burlian untuk menasihati supaya
tidak ikut-ikutan berjudi, sebab sekali mencoba akan membuat ketagihan.
“Kau tahu, miejn lieve, yang jahat dari berjudi bukan soal kehilangan uang taruhannya. Proses judi itu sendirilah yang jahat. Judi seolah memberikan jalan pintas, angan-angan indah. Seolah-olah jika kau membeli selembar SDSB seribu rupiah, besok kau otomatis dapat dua setengah juta. Mana ada warga kampung yang lulus Sekolah Rakyat pun tidak, bisa bertahan atas godaan seperti itu. Dan saat mereka mulai tenggelam dalam mimpi-mimpi itu, daya rusak judi lebih jahat lagi. Mereka malas bekerja, memaksa menjual perabotan rumah sebagai modal, mencuri, bertengkar, semuanya dilakukan demi selembar kertas.” Wak Yati menghela nafas pelan, mengambil kotak sirih di atas meja. Gigi-gigi Wak Yati walau berwarna kuning belum ada yang tanggal. Untuk perempuan tua berusia tujuh puluh lima, fisik Wak Yati masih baik sekali. (Tere-Liye, 2011: 101).
Bab
“Jangan Pernah Berhenti Percaya”, Tere-Liye menggambarkan semangat bersekolah
seorang anak yang dipaksa berhenti sekolah oleh orang tuanya. Dengan bahasa
yang apik, lagi-lagi Tere-Liye membuat pembaca menangis dengan membaca kisah
Munjib, seorang teman Burlian, yang memiliki semangat belajar yang sangat
tinggi. Bahkan hingga dilarang oleh bapaknya, dia diam-diam membaca buku.
Hingga akhirnya semua peralatan sekolahnya dibakar. Namun, Tere-Liye menyampaikan
pesan penting kepada kita, bahwa setiap keinginan baik akan meluluhkan hati
sekeras apapun itu. Apa yang kita inginkan, apabila kita berusaha mewujudkannya
akan berhasil kita dapatkan kemudian.
Pak Bin mengusap matanya, tersenyum lebar, lantas memeluk kepala Munjib. “Kau akan sekolah, Nak... tidak akan ada tembok yang menghalangi... menghentikan... Kau akan merobohkan semua penghalang. Kau akan tetap sekolah, Munjib... sepanjang kau meyakininya. Sepanjang kau tak pernah berhenti percaya.” (Tere-Liye, 2011: 158).
Bab
“Surat Dari Keiko”, Tere-Liye dengan lihai menggambarkan logat bahasa orang
asing yang menggunakan bahasa Indonesia, dengan menambahkan atau mengganti r
pada kata-kata tertentu. Pada bagian ini pula, Tere-Liye menyisipkan kata-kata
bahasa Jepang yang menarik namun tidak mengada-ada. Salah satu nilai estetika
yang dapat kita tangkap dari novel “Burlian” ini ialah kita dapat menemukan
kosa kata asing yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya. Hal ini baik,
untuk menambah pengetahuan kosa kata yang kita miliki.
“Kemanakah jalan-jalan ini akan berujung?” Aku bertanya sambil tertegun menyaksikan kelokan api naga itu yang jauh memanjang.Nakamura terdiam sebentar. Mengelus rambutku, “Jaran ini tidak pernah berujung, Burlian-kun... tidak pernah... jaran-jaran ini akan terus mengalir merewati rembah-rembah basah, rereng-rereng gunung terja, kota-kota ramai, desa-desa eksotis nan indah, tempat-tempat yang memberikan pengetahuan, tempat-tempat yang menjanjikan masa depan... lantas jaran ini akan terusss... terus menuju perlabuhan-perlabuhan, bandara-bandara... dan dari sana kau bahkan bisa pergi rebih jauh ragi, menemukan sambungan jaran berikutnya... mengeriringi dunia, merlihat seruruh dunia, masa depan anak-anak kampung, masa depan bangsa karlian. Masa depan kau yang penuh kesempatan, Burlian-kun.” (Tere-Liye, 2011: 201).
Pada
bab “Seberapa Besar Cinta Mamak”, pembaca diajak untuk mencintai ibu kita.
Tere-Liye menyajikan sebuah kisah yang menyentuh hati, mengharukan. Bahwa jika
kita tahu sedikit saja pengorbanan ibu untuk kita, itu belum ada sepersepuluh
dari rasa cintanya kepada kita. Melalui kisah Burlian ini kita dapat mengetahui
bahwa pengorbanan seorang ibu sangatlah besar terhadap kita. Tere-Liye mengajak
kita untuk menyayangi ibu melalui kisah seorang anak yang merajuk. Dan demi
anaknya dia rela menggadaikan benda miliknya yang berharga, bahkan memberi
perlindungan dengan tubuhnya.
“Sepeda baru kau... Cincin itu Mamak gadaikan untuk membeli sepeda baru kau. Enam bulan lalu, waktu kau menangis marah-marah, berteriak bahwa Mamak bohong, Mamak tidak menepati janji, esok harinya Mamak memutuskan membawa cincin itu ke kota. Menggadaikan cincin itu ke toko emas Koh Acan.... Kau tahu, Burlian, bagi Mamak kau adalah segalanya.” Ayuk Eli menghela nafas panjang.Aku sudah terdiam. Mulutku tersumpal.“Bagi Mamak, kau selalu berbeda Burlian....”Aku sudah menyambar bantal, menyembunyikan kepala di bawahnya.“Waktu Ayuk dan Kak Pukat khatam mengaji, kami hanya dijanjikan sepatu dan tas baru. Tapi kau... Mamak akan melakukan apa saja untuk membuat kau senang. Maka Mamak ringan hati menggadaikan cincin kawin itu demi kau. Cincin yang sekarang hilang entah kemana.”Aku menutup telinga erat-erat. Jangan, jangan lanjutkan lagi penjelasannya, aku sungguh tidak tahan. Tetapi meski telingaku tidak lagi mendengar kalimat Ayuk Eli, dengan segera, kalimat Bapak dulu yang justru menghujam kuat-kuat di hatiku: ...karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Kak Pukat, dan Ayuk Eli, maka itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian. (Tere-Liye, 2011: 224).
Bab
“Mengintip Putri Mandi”, memberikan pelajaran mengenai kecintaan terhadap
lingkungan. Tere-Liye membeberkan cara efektif untuk membuat orang takut
melakukan perusakan lingkungan dengan menebarkan rumor-rumor larangan merambah
wilayah tertentu. Apalagi bagi mereka yang masih memegang teguh adat. Itulah
yang mereka sebut kebijakan leluhur kampung.
“Ayuk Eli yang tadi protes soal menangkap burung itu benar. Kita memang merusak hutan dengan menangkapi burung-burung. Tapi Ayuk Eli lupa sisi terpentingnya, kita mengambil seperlunya. Kita menebang sebutuhnya. Kita punya batasan. Jangan pernah mengambil semua rebung tanpa menyisakan tunasnya untuk tumbuh lagi. Jangan pernah menebar racun atau menjulurkan kawat setrum di sungai yang akan membuat telur dan ikan kecil juga mati, padahal esok-lusa dari merekalah sungai akan terus dipenuhi ikan-ikan. Jangan pernah menebas umbut roan semuanya. Kita selalu berusaha menjaga keseimbangan. Jangan pernah melewati batas, atau hutan tidak lagi bersahabat.” (Tere-Liye, 2011: 260-261).
Bab
“ABRI Masuk Desa”, Tere-Liye menunjukkan nilai gotong-royong dan semangat
kebersamaan. Nilai estetika yang dapat kita lihat ialah Tere-Liye menunjukkan
sisi lain pertengkaran yang unik dengan saling berbalas pantun. Di bandingkan
dengan melakukan kontak fisik, Tere-Liye memilih cara berpantun untuk
menunjukkan sebuah pertengkaran.
Munjib dan Can mulai sibuk bertengkar.“Buah pala di perigi/ buah pepaya di karung gono//Siapa suruh ikut si bodoh pergi/ jadilah sesat macam begini//”Munjib macam peserta lomba pantun beberapa waktu lalu, menyindir Can yang berjalan di depannya.“Buah pepaya rasanya kecut/ Jangan dimakan bersama roti//Susahlah hati dengan si pengecut/ sesat sediit mengomel tak henti//”Can tidak mau kalah, cepat membalas.Senyap sejenak. Hanya terdengar serangga berderik.Buah pala bukan karamel/ tidak enak buat kudapanSiapa pula tidak mengomel/ Cemas baru kembali bulan depan//”Munjib mencibir mulut, segera mendapatkan pantun sindiran baru.“Memanjat pala jadi berpeluh/ jatuh terluka harus dibebat//Susah urusan si tukang keluh/ Susah sebentar dibilang seabad//”Can melotot, lewat beberap detik, kembali membalas.“Buah pala/ buah pepaya/Sudah salah/ tidak mau kalah//”Munjib melancarkan serangan berikut.“Buah pala/ buah pepaya/Sudah susah/ ada yang mengomel pula//”Can tidak kalah cekatan membalas. (Tere-Liye, 2011: 301-302)
Bab
“Tokyo, 10 Tahun Kemudian”, sebagai bab penutup dalam novel “Burlian” ini,
Tere-Liye memberikan penutup yang menarik dengan menceritakan melalui alur
mundur, perjalanan Burlian di atas kapal menuju Tokyo, menceritakan kejadian
menjelang ujian, hingga menceritakan keberangkatannya ke Jakarta setelah lulus
SD dengan diiringi orang-orang yang menyayanginya dan mendoakan keberhasilannya
sepuluh tahun yang lalu. Kisah ini pun ditutup dengan pertemuan Burlian dengan
Keiko-chan, seseorang yang selalu berkirim surat dengannya selama sepuluh tahun
terakhir.
Di sana, mengenakan gaun putih dan topi rajutan cokelat, ditimpa cahaya matahari pagi nan lembut, diantara seluruh kesibukan dermaga, telah berdiri dengan amat menarik hatinya, si pemilik rasi ‘busur dewa-dewa’.Siapa lagi kalau bukan Keiko-chan.Tersenyum lebar padaku. (Tere-Liye, 2011: 338)
Secara
singkat dapat disimpulkan bahwa nilai estetika yang terdapat dalam novel “Burlian”
karya Tere-Liye ini ada pada penggunaan bahasa yang apik, sehingga membuat
pembaca terhanyut dalam kisah-kisahnya. Ada bagian yang mengharukan sehingga
membuat pembaca menangis, ada bagian ketika pembaca ikut tersenyum dan tertawa.
Sangat menghibur sekaligus memberikan pelajaran hidup yang sangat berarti bagi
pembaca. Melalui tokoh Burlian, yang nakal namun spesial di hati orang-orang
kampung, dengan tingkah konyol tetapi juga sangat menghargai arti perjuangan
orang lain. Dengan hati kanak-kanaknya yang lembut Burlian bahkan membuat
pembaca iri dengan masa kecilnya yang ceria. Tokoh Mamak yang meskipun galak
tetapi sangat menyayangi anak-anaknya, gemar membantu sesama, pun tokoh Bapak
yang bijaksana dan pandai menasihati anak-anaknya. Ada pula tokoh-tokoh lain
yang dengan karakternya sendiri-sendiri, punya arti sendiri di mata pembaca
dengan sifat-sifat khasnya.
Tere-Liye
sangat pandai memainkan perasaan pembaca, membolak-balikaannya secara
bersamaan. Melalui berbagai petuah yang disampaikan di dalam novel ada banyak
hal yang bisa kita ambil dan kita jadikan bahan renungan bersama. Arti
persahabatan, arti penting pendidikan, kasih sayang orang tua, larangan
berjudi, larangan merusak hutan atau dalam arti perintah untuk mencintai
lingkungan, keberanian, perjuangan hidup, dan masih banyak lainnya yang
semuanya dirangkum dalam sebuah novel, “Burlian”.
Jadi, apakah di antara kalian yang sudah membaca novel "Burlian" dan menemukan estetika tersebut? Atau jika belum apakah kalian tertarik membacanya?
Jadi, apakah di antara kalian yang sudah membaca novel "Burlian" dan menemukan estetika tersebut? Atau jika belum apakah kalian tertarik membacanya?

Posting Komentar untuk "ESTETIKA DALAM NOVEL “BURLIAN” KARYA TERE-LIYE"
Posting Komentar